Monday, May 4, 2009

ESQ Dalam Catatan

suwitopom
Wed, 23 Jan 2008 18:35:25 -0800
Kepada para pakar. Saya mohon penjelasan dan komentarnya dari rekans 
semua...
 
Beberapa hari yang lalu saya menerima imel dari beberapa teman 
mengenai ESQ dan sepak terjangnya. Sempat kaget juga ketika pertama 
kali saya membacanya. Imelnya bukan cuman satu ini saja, tapi ada 
beberapa. Untuk itu saya coba sharing ke milist ini (walaupun baru 
satu ini dulu), siapa tau ada yang lebih tau.
Sebalumnya terima kasih banyakkkk....
 
PS: mohon penjelasannya berdasarkan dalil juga, dan tidak 
menggunakan Qila Wa Qala dari sumber yang tidak jelas.
 
Berikut artikelnya...
=================================================================
ESQ DALAM  CATATAN
 
Krisis multi dimensi yang menimpa bangsa tercinta, bangsa Indonesia 
yang belum kunjung reda, dan bahkan makin melilit kuat menjerat 
rakyat kecil tanpa ada rasa belas kasih, serta membuat angka 
kemiskinan anak bangsa makin membesar, adalah akibat ulah tangan 
para pengelola yang tidak bertanggung-jawab. Keseimbangan yang 
merupakan cirikhas hukum penciptaan Allah diobrak-abrik oleh para 
pengelola bangsa yang buta mata hatinya.
 
Berbagai upaya dilakukan oleh berbagai komponen bangsa, baik secara 
kolektif, krusial dan rumit.
 
Di antara sekian upaya yang dilakukan itu adalah apa yang dilakukan 
oleh Ary Ginanjar Agustian dengan ESQ Model-nya yang fenomenal. ESQ 
Model ini sudah tidak asing bagi masyarakat kita, bahkan buku 
monomental Ary yang berjudul "Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan 
Emosi dan Spiritual" sudah terjual lebih dari 150.000 eksemplar dan 
sudah dicetak lebih dari 20 kali!
 
Banyak sisi kebaikan yang terdapat di dalam ESQ Model ini, di 
antaranya adalah:
 
1-      Menumbuhkan kesadaran akan eksistensi para peserta di muka 
bumi ini sebagai Khalifah (wakil Allah).
2-      ESQ mampu menggugah nurani para peserta training dan 
mengenalkan wujud Allah swt kepada mereka, kebesaran, keagungan, 
keperkasaan dan kemaha pemurahanNya.
3-      ESQ mampu menghidupkan kembali cahaya nurani para peserta 
training yang selama ini padam.
4-      ESQ mampu mengasah spiritualitas para peserta.
      Hal itu tampak jelasa dari pengakuan banyak mantan peserta 
training yang selama ini merasa hati (spiritualitas)nya kering 
kerontang.
 
Namun, dibalik berbagai kebaikan yang terdapat pada ESQ Model, 
terdapat pula sisi negatifnya, bahkan boleh dikata sudah menyangkut 
permasalahan yang sangat prinsip. 
 
 
 
Di antara sisi negatif yang harus segera dihindari itu adalah 
sebagai berikut:
 
1-      Ary Ginanjar yang mencetuskan model ESQ Training ini tidak 
mau mengatakan kalau ESQ Model yang diasuhnya adalah lembaga da`wah 
atau sebagai kegiatan da`wah, padahal training yang diselenggarakan 
tidak lepas dari ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi saw, 
bahkan ada kutipan-kutipan perkataan shahabat nabi saw. Kenyataan 
ini ternyata berlawanan dengan yang tertera di dalam buku saku ESQ 
Model yang dibagikan kepada peserta secara gratis, sebagai berikut " 
Tiada hari tanpa da`wah" yang kemudian dikutip pula ayat al-Qur'an 
125 dari Surah al-Nahl.
 
Di sela-sela trainingnya di hadapan para peserta dan pada saat emosi 
dan spritual para peserta tersentuh Ary mengatakan 'ini bukan 
sekedar training!'. Ia ucapkan lebih dari sekali.
 
      Namun hal ini tidak masalah, apakah ESQ Model itu disebut 
lembaga da`wah atau bukan, akan tetapi jujur itu lebih baik ! Atau 
memang ada sesuatu hal yang terselubung di balik ESQ Model ini. 
Wallahu a`lam.
 
2.      Setiap suasana emosi dan ektasi, dzikir dan do`a selalu 
diiringi dengan lantunan musik lembut, dengan maksud agar bisa 
mencapai pada titik alpha, tutur Ary. Bahkan dentuman saura musik 
yang selalu mengawali acara training pun sampai membuat jantung 
terasa sakit, sehingga tidak mungkin acara-acara seperti ini 
diselenggarakan di masjid-masjid. Ia memang pantas kalau 
disenggarakan di hotel-hotel? Cara-cara seperti ini merupakan 
kebiasaan dan sunnah kaum nasrani yang kita dilarang oleh Rasulullah 
saw mengikutinya.
      Dalam kaedah ushul disebutkan: tujuan tidak boleh menghalalkan 
segala cara.
 
3.      Bershalawat sambil nyanyi pun dilakukan, bahkan Haddad Alawi 
yang berfaham Syi'ah yang sangat anti bershalawat kepada para 
shahabat Nabi menjadi bintang tamu. Dalam shalawatnya Alawi tidak 
pernah menyebut para shahabat Nabi.
 
4.      Shalawat sambil menyanyi pun dianggap sebagai pengamalan 
terhadap perintah bershalawat kepada nabi yang tertera di dalam 
surah al-Ahzab.
5.      Shalawat kepada nabi saw itu artinya memohon kepada Allah, 
berdo`a kepada- Nya agar rahmat, kedudukan yang mulia di sisi- Nya 
dianugerahkan kepada Nabi Muhammad, saw. Oleh karena shalawat adalah 
do`a, maka do`a harus dilakukan sebagai mana do`a lainnya, bukan 
dengan bernyanyi.....! Para sahabat Nabi saw, para tabi`in dan para 
paemukan imam Madzhab yang empat yang sudah tidak diragukan 
kecintaan mereka kepada nabi saw tidak pernah bershalawat dengan 
cara bernyanyi.
 
6.      Nuansa sufistik pun sangat kental dalam trining ESQ ini, 
dzikir Lâ ilâha illalloh bersama sambil geleng-geleng kepala dengan 
suara nyaring pun dilakukan dan dipimpin oleh Ary sendiri.
 
7.      Tafsir batiniy terhadap rukun iman dan rukun Islam pun 
sangat kental, terutama dalam menfasirkan surat al-Fatihah dan 
ritual haji, sebagaimana akan disebutkan di bawah.
 
8.      Ketika peserta sudah berada dalam kondisi tersentuh 
spiritualitasnya mereka disuruh sujud dan minta ampun dan ada juga 
yang bertakbir histeris. Sujud apa ini? Tidak jelas...... Sehabis 
sujud kadang diselingi dengan teriyakan yel-yel ESQ, Mars ESQ atau 
senam erobic atau lainnya.
 
9.      Untuk menambah suasana histeris, petugas menghampiri peserta 
yang histeris menangis dan memperdengarkannya kepada halayak melalui 
pengeras suara! Harus seperti inikah melatih dan mengasah ESQ para 
peserta ?
 
10.     Tafsir sufi (batiniy, isyaariy) terhadap surah al-fatihah 
pun terjadi, seperti ihdinas shirâthal mustaqîm (Ihdinâs dengan H 
besar, yang harus dibunyikan dari dalam perut diartikan "menunjukkan 
kesungguhan dalam beraksi" dan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya di 
artikan secara paksa agar sesuai dengan jiwa managemen perusahaan.
 
11.     Demikian pula tafsir terhadap ritual haji. Bahkan tiga hari 
pertama dari training terkesan diartikan sebagai prosesi wuquf, yang 
dalam ESQ training berwujud ZMP, sedangkan hari keempat sebagai 
prosesi thawaf dan sa`i. Thawaf dan Sa`i diartikan sebagai simbol 
kerja keras (total action). 
 
Yang lebih nyeleneh lagi adalah pada hari keempat ada simulasi sa`i 
dan thawaf yang tidak hanya sekedar simulasi, melainkan benar-benar 
harus dirasakan seperti melontar jumroh, sa`i dan thawaf di Ka`bah 
yang harus dilakukan dengan ikhlas dan dengan niat yang sebenarnya . 
Melontar diartikan membuang sifat-sifat buruk yang ada pada diri, 
dan yang dilempari pun adalah gambar makluq yang menyeramkan 
(syetan) yang telah disediakan panitia, berikut batu kerikil 
imetasinya. Sa`i dan thawaf diartikan sebagai simbol kerja keras 
(total action). Seusai Sa`i di tempat training, maka peserta harus 
melakukan thawaf di tempat yang sama dengan mengelilingi Ka`bah 
buatan. Ini benar-benar ajaran sufi yang menyimpang. 
 
12.     Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan hal-hal seperti itu 
kepada para shahabatnya. Bahkan, Umar bin Khatthab, ra (yang selalu 
mendapat ilham) pada saat melaksnakan ibadah haji di masa ke-
Khalifah-annya tidak pernah mempunyai pehaman seperti itu. Malah 
saat beliau akan mengecup Hajar Aswad beliau berkata: Hai hajar 
Aswad, aku tahu bahwa kamu tidak bisa memberi menfaat dan tidak pula 
dapat mendatangkan mudarat. Kalau saja bukan karena aku telah 
melihat Rasulullah mengecupmu niscaya aku tidak akan mengecupmu.
 
13.     Sebelum mereka melakukan ibadah haji pun sudah "total 
action", bahkan mengerahkan semua kemampuan dalam beramal dengan 
semangat ikhlas dan ihsan sudah mereka sadari sebagai tuntutan 
tauhid dan ketulusan mengabdi kepada Allah swt, jauh sebelum mereka 
mengenal ibadah haji.
 
14.     Dengan empat hari itu terkesan bahwa ajaran Islam sudah 
lengkap dan sempurna, maka ayat 3 suarah al-Ma'idah pun dibacakan 
sebagai tanda sempurnanya ajarannya. Dengan demikian ESQ Training 
mengesankan bahwa Islam ala ESQ itulah cerminan Islam sejati. Kesan 
ini pun lebih nampak lagi dengan dibuatnya kartu alumni bagi para 
peserta yang telah mengikuti training selama 4 hari, yang dengan 
kartu itu peserta dapat mengechas kembali iman mereka, sekalipun 
beberapa alumni sedang 'ngechas' yang kami wawancarai 
mengatakan "kami tidak menangis seperti waktu dulu saat training, 
karena tiadak ada yang baru lagi bagi kami".
 
 
15.     Bagi Ary, sumber utama kebenaran adalah suara hati. 
Kebenaran 'Suara hati' bagi Ary di atas kebenaran al-Qur'an dan 
hadits Nabi SAW. Berikut ungkapnya: "Pergunakanlah suara hati anda 
yang terdalam sebagai sumber kebenaran, ....." Lebih lanjut ia 
mengatakan: " ...., dan ayat-ayat Al Qur'an sebagai dasar berpijak 
(legitimasi). Dan yang terpenting adalah legitimasi suara hati anda 
sendiri, sebagai nara sumber kebenaran sejati" (Lihat: Rahasia 
Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Hal. Liv). 
 
Suara hati dalam bahasa kaum sufi sering disebut dengan Dzauq (rasa 
hati) yang pada prinsipnya sama, yaitu sumber kebenaran sejati. Maka 
tidak heran kalau dari mulut mereka kita dengar ungkapan "haddatsaii 
robbii `an nafsii" (Tuhan ku menginformasikan kepada ku melalui jiwa 
ku). Juga ungkapan: "kalian belajar kepada orang yang sudah mati, 
sedangkan kami belajar langsung kepada Yang Maha Hidup".
 
16.     Keyakinan Ary yang lebih rancu dan sangat berbahaya lagi 
adalah ungkapannya bahwa Nabi Muhammad SAW dalam kepribadiannya 
sebagai Rasul yang sekaligus sebagai pemimpin abadi sangat 
mengandalkan logika dan suara hati. Berikut ungkapannya: "Itulah 
tanda bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan nabi penutup, atau yang 
terakhir, yang begitu mengandalkan logika dan suara hati, ......." 
(Lihat buku Rahasia Sukses .... ESQ, hal. 100).
 
Padahal kita kaum muslimin meyakini bahwa Nabi saw selalu bersandar 
kepada wayu ilhi yang diturunkan melaui Jibril. Wahyu ilahi bukan 
suara hati!
 
17.     Bisakah Ary membedakan mana suara Tuhan dan mana suara 
syetan! Saya hawatir akan muncul Mirza Ghulam Ahmad abad 21 dan Lia 
Aminuddin baru lagi ! Apa lagi Ary mulai dan sering mengutarakan hal-
hal ganjil, seperti melihat cahaya yang ia yakini Allah, dan merasa 
ada hantaman angin di wajahnya sehabis memberikan materi 
trainingnya, yang ia yakini hembusan angin malaikat ! Subhanallah!!
 
18.     Misteri Graha 165. Adalah graha yang dirancang untuk pusat 
Training ESQ. Setelah uji kelayakan tanah, ternyata tanah ini serupa 
kwalitasnya dengan tanah di Mekkah, maka Graha ESQ merupakan satu-
satunya bangunan pencakar langit di Ibu kota yang dibangun tidak 
menggunakan pondasi pancang. Hal ini dianggap sebagai 'karomah' bagi 
Ary dan ESQ-nya. 
 
Sample tanahnya pun dibuat cindera mata yang dipersembahkan kepada 
salah seorang tokoh di antar peserta training.
 
Graha ini pun dalam rencananya dilengkapi dengan satu ruang samedi 
(pertapaan) khusus bagi para alumni ESQ yang terletak di paling 
puncak bangunan. Ia bukan mushalla dan bukan juga masjid. Sebab 
mushalla sudah di sediakan di lantai bawah. Hal ini diungkapkan oleh 
Ary sendiri pada saat mengenalkan program pembangunan Graha 165 guna 
mendapatkan dukungan dana dari para peserta.
 
Dalam Islam tidak ada samedi atau pertapaan. Bahkan, apa yang pernah 
dilakukan Nabi saw di gua Hira' sebelum diangkat menjadi Nabi, 
beliau tidak pernah menganjurkannya kepada ummatnya dan tidak pernah 
pula dilakukan oleh seorang pun di antara shahabatnya. Islam hanya 
mengajarkan i`tikaf yang hanya bisa dilakukan di masjid-masjid.
 
19.     Ayat-ayat al-Qur'an sering diartikan tidak pada tempat atau 
maksud yang sesungguhnya, hal ini banyak terdapat di dalam buku 
monumentalnya. Seperti ayat Q.S 40 Surat al-Mu'minun, ayat 17, "Hari 
ini setiap orang mendapat balasan menurut usahanya. Hari ini tiada 
kezaliman. Allah sungguh cepat membuat perhitungan". Ary jadikan 
ayat ini sebagai legitimasi terhadap hadiah yang diberikan kepada 
seorang karyawan berinisial "DS" oleh atasannya yang di luar dugaan 
sebelumnya, karena telah melakukan suatu pekerjaan tanpa 
mengharapkan sesuatu apapun. (Lihat kisahnya pada halaman 52 dari 
buku ESQ). Padahal ayat di atas berkenaan dengan pembalasan Allah di 
hari akhirat kelak, yaitu pada yaumul hisab.
 
20.     ESQ Model yang dicetus oleh Ary nampaknya menganut faham 
pluralisme agama. Hal itu tampak dari ungkapan salah seorang Prof. 
UI yang menjadi salah satu petinggi ESQ dalam sambutannya pada acara 
penutupan training. Bahkan, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat yang 
menganut faham pluralis pun digandeng dan ditetapkan sebagai salah 
satu anggota sindang redaksi Majalah Nebula-nya ESQ yang dipimpin 
oleh Ary.
Faham pluralisme agama sudah difatwakan haram oleh majlis Ulama 
Indonesia tahun lalu, bahkan para ulama-ulama Islam sebelumnya 
menegaskan bahwa orang yang meyakini agama selain Islam benar adalah 
murtad.
 
21.     Bagi para peserta yang selama ini belum pernah menangis 
karena takut kepada Allah, dan belum pernah merenungkan ayat-ayat al 
Qur'an dan ayat-ayat kauniyah, ESQ Training adalah segala-galanya. 
Bahkan akan berkesimpulan "ESQ Training" adalah jalan hidupnya. Dan 
bagi yang sudah pergi haji bersama group "ESQ Training" pun akan 
timbul rasa bahwa tidak sempurna bila tidak beribadah haji bersama 
group "ESQ Training".
 
Tidak begitu halnya bagi orang yang sudah biasa dekat kepada Allah 
dan mengenal keagungan, kebesaran dan rahmat-Nya, ESQ Training itu 
biasa-biasa saja. Bahkan, bagi orang yang pernah tafaqquh fiddin 
dengan benar yang bersumber kepada al-Qur'an dan Sunnah secara 
komprehensif dan integral, ESQ Training perlu diluruskan.
 
22.     Pengkultusan terhadap Ary dan ESQ-nya kini mulai kental 
terasa, dan jika tidak segera diwaspadai dan Ary tidak siap diberi 
nasihat dan selalu bersikap ZMP yang didengungkannya, maka tidak 
mustahil kalau "ESQ Training" akan menjadi agama baru bagi bangsa 
Indonesia. Apa lagi Ary dengan ESQ nya mendapat respon dari 
pemerintah, bahkan mereka yang ikut dalam training pun bukan 
sembarang orang, melainkan para petinggi negara!
 
23.     Dalam mengartikan al-Asma'ul Husna dan dalam upaya 
merefleksikannya di dalam dunia bisnis dan leadership banyak 
disalahartikan dan dipaksakan agar sesuai dengan keinginan Ary. 
Seperti nama "al-aakhir" diartikan Allah bersifat visioner, dan 
akhlaq yang harus diambil adalah manusia harus memiliki visi. 
 
Al-jaami' yang berarti Maha Penghimpun, Ary merefleksikannya dalam 
arti keharusan "kerjasama". Dan masih banyak lagi nama-nama Allah 
lainnya yang disalahartikan. Di dalam menanamkan asma'ul Husna ini 
Ary mengutip hadits palsu yang sering dipakai oleh kaum sufi untuk 
menanamkan ajarannya, yaitu: takhallquu biakhlaaqil-llah 
(berakhlaqlah dengan akhlaq-akhlaq Allah). 
 
Al-Matin: akhlaq yang harus diambil adalah sikap selalu berdisiplin. 
Kalau al-mutakkabbir yang ditiru atau diambil apanya ? Atau 
diartikan Yang Maha Pembesar, lalu kita berupaya ingin menjadi orang-
orang pembesar? 
Kalau al-hamiid apa direfleksikan kepada upaya keras agar kita 
menjadi orang terpuji seperti Dia, sehingga pujian mengarah kepada 
kita?  Lalu kalau Allah adalah al-Khaliq, maka yang ditiru adalah 
sifat berkreasinya! Sehingga ketika memahami al-asma'ul husna 
terdapat pemahaman yang kontradiksi antara merefleksikan nama-nama 
Allah tersebut pada diri kita, sehingga kita berbuat (bersikap dan 
bertindak) seperti Allah (sebagai subject), dengan merefleksikannya 
pada diri kita sehingga kita menjadi object. Seperti pada al-jaami` 
dan al-Khaliq. Sebaiknya saudara Ary tidak memaksakan ayat, hadits 
atau pun nama Allah agar bisa sesuai dengan kehendak dirinya. 
Bacalah buku-buku para ulama berkenaan dengan masalah ini, lalu 
hayatilah!
 
Dalam masalah ini, kadang apa yang ditulis oleh Ary dalam bukunya, 
berbeda dengan yang ia sampaikan saat training.
 
24.     Rukun iman juga mengalami tafsiran pemaksaan dari Ary, agar 
ESQ Training nya bisa dikatakan berdasarkan rukun iman (Mental 
Building). Untuk itu, rukun iman hanya difahami dengan pemahaman-
pemahaman yang bisa diarahkan menjadi sebagai prinsip-prinsip 
leadership, tidak komprehensif. Demikian pula rukun Islam yang 
diartikan sebagai landasan ketangguhan pribadi. Syahadat rasul 
terkesan hanya shalawat nya sebagai bukti cinta kepada Rasul, bukan 
bagaimana menjadikan sunnahnya sebagai pegangan dan pedoman. Yang 
diambil hanya yang berkaitan dengan ke-leadership-annya saja.
 
25.     Rujukan dan sandaran Ary dalam penulisan bukunya adalah buku-
buku yang bermasalah, seperti Sejarah Kehidupan Nabi yang ditulis 
oleh M. Haikal, juga tulisan Ali Syariati yang menganut faham syi`ah.
 
26.     Hadits-hadits palsu yang biasa menjadi rujukan kaum sufi pun 
dijadikan sandaran ESQ Model-nya Ary, baik dalam buku yang pertama 
maupun dalam buku yang kedua. 
 
 
Sebut saja misalnya hadits palsu: Apabila engkau mengenal siapa diri 
mu, maka engkau mengenal siapa tuhannya, yang dalam terjemah 
letterlegnya sebagai berikut: Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia 
telah mengenal tuhannya.
 
Hadits palsu ini telah menyeret kepada faham menunggal ing kaulo 
gusti (ittihaad, menyatu dengan Tuhan) dalam kalangan kaum sufi, dan 
ini pun terjadi dalam faham Ary. Setelah ia mengutip tulisan Ali 
Syari`ati yang mengandung faham ittihad, Ary kemudian 
menyempurnakannya dengan apa yang ia sebut "untaian kata mutiara 
Syamsi Thabriz" yang berbunyi sebagai berikut: "Ka`bah adalah pusat 
dunia. Semua wajah menghadap ke Ka`bah. Tengoklah. Lihat ! Setiap 
orang menyembah jiwa masing-masing". 
 
Faham sesat inilah yang dianut oleh al-Hallaj dan Syeikh Siti Jenar, 
yang aromanya sangat  kental di dalam ESQ Model-nya Ary.
 
27.     Begitu pula atsar-atsar palsu banyak dimuat dalam bukunya, 
seperti atsar (ucapan shahabat nabi atau tabi`in), seperti atsar 
yang dinisbatkannya kepada Umar bin Khatthab, ra berikut: Hatiku 
telah melihat Tuhanku karena hijab (tirai) telah terangkat oleh 
taqwa. Barangsiapa yang telah terangkat hijab (tirai) antara dirinya 
dengan Allah, maka jadi jelaslah di dalam hatinya akan gambaran 
kerajaan bumi dan kerajaan langit". (Lihat Buku Saku ESQ).
 
Dalam kutipan-kutipan seperti ini Ary sama sakali tidak bersandar 
kepada rujukan-rujukan primer, melainkan mengekor kepada tokoh-tokoh 
sufi dan orang-orang yang tidak jelas ke-Islam-annya. 
 
Maklum, Ary bukan seorang pakar dalam ilmu Agama, melainkan seorang 
pebisnis tulen. Tetapi ia berani berbicara tentang masalah agama, 
bahkan dalam hal-hal yang sangat prinsip dalam agama. Semoga Allah 
memberi hidayah kepada kita semua. Amin.
 
Masih banyak lagi catatan-catan yang seharusnya dituangkan disini 
untuk dijadikan bahan kajian dan kritikan yang membangun, bukan 
untuk menyudutkan atau mencemarkan nama baik Ary Ginanjar.
 
Buku "Rahasia Sukses...... ESC" karya Ary yang diberi pengantar oleh 
sejumlah tokoh itu banyak memuat kejanggalan dan hadits-hadits 
palsu, menempatkan ayat-ayat al-Qur'an bukan pada tempatnya, harus 
dikaji ulang dan dikritisi secara obyektif, sebagai wujud tawaashaw 
bil haqq.
        
Sebaiknya, setiap para alumni Training ESQ Model-nya Ary jangan 
menutup diri untuk belajar Islam lebih jauh, dan jangan 
mengkultuskan ESQ Model-nya Ary. Anda hendaknya tahu dan menyadari 
bahwa kelezatan spiritual yang anda rasakan dalam training ESQ itu 
sama sekali tidak menunjukkan kebenaran ESQ Model, sebab hal seperti 
bisa anda temukan di semua kelompok faham, bahkan di semua agama dan 
berbagai aliran kepercayaan!

No comments:

Post a Comment